Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 09 Mei 2012

Manusia dan Kematian




Manusia dengan segala hal yang ada di sekitarnya merupakan proses berkelanjutan yang belum pernah selesai. Proses berkelanjutan ini mengandung berbagai persoalan pelik tersendiri yang hingga saat ini masih tetap aktual untuk dibicarakan. Teka-teki besar, yaitu dari mana sesungguhnya manusia itu berasal, sedang berada dalam fase kehidupan yang bagaimana saat ini, hingga kemudian ke mana manusia akan menuju, belum bisa terjawab seutuhnya dan masih menyisakan berbagai pertanyaan yang harus dicarikan jawabannya.
Persoalan yang muncul tentang manusia—tentu manusia sendiri yang memunculkannya—mulai dari persoalan yang berkaitan dengan struktur yang menyusun eksistensinya, makna eksistensinya, kebebasan dan keterikatannya dalam mewujudkan eksistensinya di lingkungan sosialnya, hingga pada persoalan seputar kematian merupakan tabir misteri yang terus diupayakan penyingkapannya. Manusia bukanlah  probleme yang akan habis dipecahkan, melainkan  mystere yang tak mungkin sifat dan cirinya dapat disebutkan secara tuntas. Demikian yang diungkapkan oleh Gabriel Marcel ketika mengemukakan pandangannya tentang manusia.
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa salah satu misteri yang melingkupi manusia adalah persoalan tentang kematian. Perbincangan yang membahas seputar kematian telah banyak dilakukan, namun belum juga mampu memuaskan manusia untuk menemukan jawaban atas berbagai persoalan yang diajukan seputar kematian itu. Filsafat sebagai aktivitas rasional-reflektif juga melakukan kajian tentang persoalan ini. Melalui cabangnya, Anthropology Metaphisycs atau yang sering dikenal dengan Filsafat Manusia, bidang ini berusaha menguak tabir misteri kematian yang melingkupi hidup manusia. Namun kematian masih saja tetap menjadi sebuah misteri yang belum secara utuh terungkap.
Achmad Charris Zubair dalam pengantarnya berjudul Refleksi tentang Kematian pada buku Misteri Kematian Suatu Pendekatan Filosofis menyatakan banyak orang berpendapat bahwa hidup ini bersifat ironis, karena manusia sebenarnya tidak pernah meminta agar dia dilahirkan, tetapi begitu dia lahir, mencintai hidup dan kehidupannya, dia dihadapkan pada realitas yang sangat menyakitkan hatinya. Manusia dihadapkan pada kematiannya, dihadapkan pada batas akhir hidupnya, yang senang atau tidak senang harus dijalaninya, sebagaimana kelahirannya sendiri (Leahy, 1998 : ix).
Bila ditelusuri lebih jauh sesungguhnya kematian merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami dan merasakan kematian, karena mati telah menjadi pasangan bagi hidup. Tetapi kita memang tidak pernah bisa menentukan sebuah kepastian, kapan kematian itu akan datang. Kematian datang menghampiri kita bagaikan seorang pencuri, menyelinap masuk lalu membawa ruh kehidupan kita dengan meninggalkan jasad tak berdaya (Leahy, 1998 : x). Itulah gambaran yang diberikan oleh Ahmad Charris Zubair berkenaan dengan ketidakpahaman manusia kapan maut itu akan menghampirinya.
Kematian, baik dalam situasi normal maupun tidak normal, tidak pernah gagal untuk menunjukkan taringnya yang bengis dan siap merobek jaringan kehidupan manusia dengan sewenang-wenang. Kematian benar-benar merampas segala skala nilai kehidupan yang telah ditata dengan rapi, serta memporak-porandakan semua rencana hidup yang disusun oleh manusia menjadi suatu bangunan yang megah dan indah. Manusia selalu merasa datangnya kematian itu terlalu cepat. Kesempatan untuk menyelesaikan segala rencana yang ada dirampok oleh kematian yang tidak kenal kompromi. Belum puas rasanya mengukir kehidupan ini. Belum sempat rasanya menikmati kehidupan dengan orang-orang yang kita cintai. Kematian segera datang menjemput, tidak pernah sabar menunggu barang semenit atau sedetik pun.
Kematian sering identik dengan tragedi yang membawa banyak kesedihan bagi yang ditinggalkan. Tentu saja kesedihan akan terasa semakin mendalam bila kematian itu menimpa orang-orang terdekat kita, yang kita cintai dan kita butuhkan. Ketika itu yang terjadi, banyak di antara manusia yang tidak sanggup menerima proses kematian itu sebagai konsekuensi logis dari kehidupan. Kematian memunculkan jarak yang tak terukur dan tak terbatas antara yang masih hidup dengan yang telah mati. Meskipun demikian, pada akhirnya semua manusia harus dengan rela menerima datangnya kematian sebagai suatu ketentuan “nasib” yang tak terelakkan.
Fenomena kematian bukanlah hal yang asing di tengah eksistensi manusia. Kendati demikian, hal itu tidak memberikan jawaban apa pun atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri manusia ketika kematian itu disaksikannya. Sehingga meskipun fenomena kematian itu bukan hal yang asing bagi manusia, namun tetap memunculkan kecemasan dan ketakutan dalam dirinya. Sidi Gazalba menyatakan bahwa pertanyaan tentang kematian merupakan pertanyaan yang muncul dari kesangsian, kesangsian muncul dari ketidakpastian, ketidakpastian menimbulkan kegelisahan dan pada akhirnya kegelisahan akan membawa manusia kepada kecemasan dan ketakutan (Gazalba, 1967 : 25).
Hingga saat ini, kebanyakan kesadaran yang dimiliki manusia tentang kematian masih berupa ketakutan. Akibatnya, tidak jarang muncul lontaran yang bernada keberatan bila kematian dijadikan sebagai bahan kajian. Berpikir tentang kematian atau berdiskusi mengenainya dianggap sebagai sesuatu yang tidak sehat dan dapat membahayakan keseimbangan psikologis. Padahal bila kita telusuri On Death and Dying-nya Elisabeth Kubler-Ross (1998 : 15), dia menyatakan bahwa berpikir tentang kematian dan mendiskusikannya secara serius justru akan memunculkan kebijaksanaan kolektif umat manusia baik dari segi psikologis maupun spiritual. Senada dengan hal itu, filsuf Miguel de Unamuno mengatakan bahwa kesadaran akan kematian membawa manusia dan individu-individu menjadi matang secara spiritual.
Kematian bagi manusia sesungguhnya bukan sebagai kehancuran yang tiada bermakna. Kematian justru berfungsi sebagai mediator bagi suatu proses transendensi diri manusia itu sendiri. Menarik apa yang dituliskan dalam Majalah Basis, tahun ke-51, bulan September-Oktober (2002 : 65) berkenaan dengan misteri kematian Marilyn Monroe. Majalah tersebut menegaskan bahwa Marilyn Monroe tidak pernah ingin mati, tetapi tekadnya untuk mati makin bulat ketika hidupnya semakin gemerlap. Marilyn Monroe didapati mati ketika dia sedang memperoleh segala yang ingin diperolehnya. Adakah hidupnya hanya kesia-siaan? Adakah kematiannya yang tragis hanyalah akhir dari kesia-siaan hidupnya? Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja mungkin. Namun, di atas semua itu, kematiannya adalah tragedi yang mengungkapkan bahwa hidup ini akhirnya hanyalah “mampir ngombe”. Dengan segala kemegahan dan kesuksesannya, dia memaksa dirinya untuk berjalan di luar rel realisme hidup yang hanya “mampir ngombe” itu. Akibatnya dia terpelanting dari hidup ini, dan mati dengan amat tragis.
Lalu, berakhirkah seluruh riwayat Marilyn Monroe? Ternyata tidak. Kematian yang dialaminya justru membuat hidupnya tak pernah berakhir. Hidup yang dia peroleh tidak meniadakan kehebatannya, malah makin meningkatkan dan memperpanjang kehebatannya itu. Kematiannya selalu dibicarakan orang, segala prestasi yang pernah dicapainya senantiasa diingat orang, kepopulerannya tak pernah lepas dari perbincangan orang, baik dan buruk sisi kehidupan yang telah dijalaninya menjadi sorotan orang. Dengan kematiannya, eksistensinya seakan diperpanjang sampai ke titik yang tak pernah berakhir. Inilah proses transendensi diri yang dialaminya. Pengertian dan pemahaman seputar kematian yang ditanggapi semata-mata sebagai peristiwa yang menakutkan dan mengancam eksistensi manusia seyogyanya perlu diluruskan. Ibn Miskawaih menyatakan bahwa sesungguhnya ketakutan akan kematian itu hanya ada pada diri orang yang tidak memahami hakikat kematian itu, atau tidak tahu ke mana tujuan dirinya setelah mati.
Dia juga mengatakan boleh jadi juga karena orang itu menyangka bila jasmaninya telah rusak, maka dirinya pun akan hilang pula. Kemungkinan lain, orang mengira bahwa alam ini akan terus lestari sementara dirinya telah musnah. Padahal diri dan jiwa itu kekal, kemudian kembali kepada Allah. Rasa takut kepada maut juga menghinggapi orang yang menyangka bahwa kematian itu menyebabkan rasa sakit yang tak terperikan, atau pada orang yang merasa bahwa setelah mati akan menerima siksa, atau pada orang yang merasa sedih bila berpisah dengan harta dan kesenangan duniawi (Miskawaih, 1994 : 185).
Bila diperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh Ibn Miskawaih tersebut, kecemasan dan ketakutan akan kematian itu muncul sebagai akibat dari pemahaman yang disandarkan pada pola pikir kaum materialis. Kebanyakan manusia, alam pikirannya telah didominasi oleh corak berpikir ini, sehingga segala hal yang terjadi diukur secara materi. Louis Leahy (1991 : 66) mengutip pendapat Pascal yang menyatakan bahwa karena umat manusia tidak berhasil mengatasi kematian, kesengsaraan dan ketidaktahuan, maka mereka memutuskan untuk tidak memikirkan tentangnya. Mereka menyerah pada tataran fenomena kematian itu saja dan tidak bersedia untuk berbicara lebih luas lagi mengenainya sekalipun dalam benak mereka tersisa kecemasan dan ketakutan.
Materialisme berpandangan bahwa seluruh realitas adalah materi atau dapat direduksi pada materi sehingga memunculkan pemikiran skeptis seputar kemungkinan hidup sesudah mati atau tidak adanya unsur immaterial yang bertahan. Kematian manusia tidak lebih dari sekedar proses hancurnya struktur atom manusia, peleburan serta penyebaran unsur-unsur atom itu.
Pembuktian akan adanya hidup setelah mati bukan suatu pekerjaan yang mudah. Hukum-hukum berpikir rasional tidak akan dapat memverifikasi bagaimana kondisi alam kehidupan setelah mati, apa yang terjadi di sana dan sampai kapan itu akan berlangsung. Tetapi hal itu bukan berarti lantas meniadakan adanya hidup setelah mati. Bila dimensi rasio tidak mampu untuk memahaminya, sudah sepantasnya membangun pemahaman akan kematian itu dari dimensi ruhani. Lewat dimensi ruhani ini, maka pemahaman akan kematian—sebagaimana yang ditulis oleh Arif Widodo dalam kesimpulan skripsinya berjudul Laku Icip Pati Sebagai Langkah Metodis untuk Mencapai Derajat Kemulyaan Hidup (1995)—bukan lagi sebatas kejadian “pasif”, namun sampai kepada pemahaman akan kematian “aktif”.
Dengan demikian pengetahuan yang didapatkannya adalah pengetahuan yang bersangkutan langsung dengan wilayah pengetahuan Allah. Pengetahuan dan pemahaman tentang kematian yang semacam ini, tidak lagi menyisakan kecemasan dan ketakutan, melainkan memunculkan kerinduan untuk segera bertemu dengan kematian itu. Sebab, kematian akan membawa manusia kepada jatidirinya. Pengetahuan tentang kematian yang disertai dengan sentuhan ruhani, mengubahimage kematian yang penuh dengan kegelapan dan ketersesatan menjadi suasana yang dirindukan penuh kesyahduan. Karena alam kematian mengantarkan manusia kepada asal mula kodrat manusia itu sendiri.
Poskan Komentar